Nglipar,(sorotgunungkidul.com)--Luar
biasa. Nenek usia 90 tahun, kuat berjalan 5 km. Melenggang, menari
diringi tetabuhan tradisional, berupa kentongan bambu. Peristiwa yang
langka terjadi. Hal itu ada di Desa Kedungkeris, Kecamatan Nglipar pada
prosesi kirab budaya, Minggu (04/05/2014) kemarin, dalam rangka
rasulan.
“Saya angkat jempol dan penghargaan yang setinggi-tingginya terhadap
semangat warga Kwarasan, Kedungkeris. Terlebih penampilan Mbah Welas
(90). Sudah uzur, masih kuat mengikuti kirab budaya,” ungkap
Sabarisman Camat Nglipar yang duduk pada dingklik kehormatan.
Sarjono dari Dewan Kebudayaan, sepanggung dengan Camat Nglipar
menilai, “Ini kirab budaya terbesar dan pertama kali di Gunungkidul.
Tiga padukuhan, yaitu Kwarasan Kulon, Tengah serta Kwarasan Wetan, yang
hanya terdiri dari 18 RT mampu menampilkan 52 bregodo (barisan).”
Sukapto, SE (54), salah satu anggota panitia menjelaskan, kirab
budaya ini akan dilakukan secara rutin saban tahun. Tujuan utama, untuk
melestarikan budaya, sekaligus menyongsong perkembangan pariwisata.
Ditemui di kerumunan kirab budaya, Murdiyanto, SE Kepala Desa
Kedungkeris yang baru menjabat 6 bulan, menyebut secara global, biaya
kirab tidak kurang dari Rp 85 juta. “Semua swadaya masyarakat, dan
sedikit donatur. Saya berpesan, agar masyarakat tidak perlu memaksa
diri. Tidak mengira, kirab malah semeriah ini,” katanya.
Kirab hari itu, dimulai pukul 11.30 WIB, berakhir pukul 16.05 WIB.
Start dari Desa Kedungkeris finish di Padukuhan Kwarasan. Disediakan
satu trophy bergilir dan Rp 3 juta total uang pembinaan untuk juara I,
II, II serta juara harapan I dan II.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar